Mudik… Mudik….

Ada beberapa peristiwa yang mungkin saat ini kita lupakan, peristiwa ini selalu terjadi tiap tahun dan selalu menjadi pemberitaan besar-besaran di media. Serta tak luput juga peristiwa ini telah menjadi sebuah pekerjaan rumah tersendiri bagi pihak-pihak yang berwenang. Budaya mudik dan arus baliklah yang berada dibalik peristiwa semua ini, budaya ini seakan menjadi sebuah ritual tahunan di Indonesia terutama di Jawa dan kota-kota besarnya. Tanpa disadari oleh semua pihak, budaya mudik ini sebaiknya juga dijadikan gambaran bagaimana kita melihat proses tahap sebuah pambangunan di negara kita saat ini. Juga telah diketahui secara umum bahwa budaya mudik selalu berkaitan dengan hari raya Idul Fitri tiba atau beberapa hari sebelum menjelang lebaran tiba, ini secara tidak langsung juga menunjukkan dimana rata-rata penduduk Indonesia memeluk agama Islam.

Budaya mudik sebenarnya bukanlah hal yang baru di Negara kita saat ini, tapi kita akan menjadi heran ketika melihat peristiwa ini menjadi faktor yang merugikan ataupun faktor yang menguntungkan dan menyenangkan bagi setiap individu masyarakat yang ikut dalam peristiwa ini. Bisa dibayangkan dengan adanya mudik sangat banyak peristiwa yang tidak bisa dilewatkan, entah dari antrian mendapatkan tiket transportasi,antrian di SPBU untuk mendapatkan bahan bakar bagi yang menggunankan kendaraan pribadi,kemancetan dijalan, dan sampai banyaknya kecelakaan kerena bertambah padatnya pengguna jalan dan peristiwa-peristiwa lainnya seperti banyaknya perampokan ketika melihat kejadiaan saat ini atau pemindahan-pemindahan jalur alternatif guna mengurangi jumlah kemancetan yang terjadi. Fenomena yang menarik dari budaya mudik sebenarnya terletak dari bagaimanakah budaya ini muncul dan telah menjadi kebiasaan tahunan yang mapan dimasyarakat kita saat ini.

Sebenarnya kalau kita amati secara teliti budaya mudik ini hanya terjadi dikota-kota besar saja khususnya di Jawa, seperti Jakarta(Jabotabek), Surabaya, Bandung maupun Semarang. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa orang-orang ini mudik?, ini bisa terjadi karena rata-rata para pemudik adalah pendatang yang telah bekerja lama di suatu kota ataupun sampai mereka bisa menetap dikota tersebut. Secara tidak langsung mereka-mereka ini(pemudik) masih mempunyai ikatan sanak keluarga ditempat asal mereka. Ini menunjukan bahwa rata-rata kota besar di Indonesia saat ini semakin besar jumlah pendatangya, faktor urbanisasi besar-besaran inilah yang menyebabakan semakin besarnya jumlah pemudik tiap tahun. Dan satu pertanyaan lagi kenapa mereka melakukan urbanisasi?, sudah jelas ini karena faktor pekerjaan, mereka berasumsi bahwa kota besar lebih banyak memberikan mereka kesempatan kerja, karena sampai saat ini industri-industri juga hanya terpusat dikota besar saja. Daya tarik sebuah kotalah yang menyebabkan arus urbanisasi ini terjadi.

Bisa disimpulkan bahwa budaya mudik ini sangat berkaitan erat dengan faktor urbanisasi dan khususnya hanya terjadi dikota-kota besar saja. Ini juga menunjukkan bagaimanakah pembangunan saat ini hanya tersentralisasi dibeberapa titik saja. Maka dari itulah sebenarnya budaya mudik ini juga hanya terjadi dinegara-negara berkembang saja, seperti Indonesia saat ini. Karena rata-rata pembangunan dinegara-negara berkembang juga hanya terkonsentrasi dibeberapa kota besar saja, budaya mudik seharusnya menjadi analisa pemerintah bagaimanakah pemerataan pembangunan nantinya bisa dilaksanakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s